Buku 01

Mumpung belum mengantuk di jam 4 pagi ini, ada hal yang ingin saya celotehkan dari pikiran saya. Belakangan, saya membongkar lemari dan membagi-bagikan koleksi buku saya kepada teman-teman, hingga disumbangkan kepada beberapa pihak.

Hal ini—mengosongkan lemari buku—bukan pertamakali ini terjadi. Kesadaran ini buat saya tertawa sendiri, karena saking seringnya saya mengisi lemari dengan membeli (atau menerima dari pemberian) buku-buku yang pada akhirnya saya lepaskan kembali.

I wish there was one simple explanation, tapi sembari menunggu pagi untuk saya tidur, saya ingin mencoba menghamparkan alasan-alasan yang membuat saya pada akhirnya “berperilaku” seperti ini.

Hubungan saya dengan buku bisa dilihat dari sisi konkrit sebuah buku. Aneh mungkin buat orang, tapi sedari dulu saya suka sekali dengan bentuk sebuah buku. Persegi panjang dan bersudut tegas, tak jarang saya sengaja simpan buku di sebelah saya setelah membaca sebelum tidur, hanya untuk menyentuhnya sambil saya terlelap. Tanpa bermaksud membuat ini romantis, saya merasa menyentuh buku seakan memberi energi tertentu, yang membuat mimpi saya jadi lebih tenang hingga tak jarang  isi mimpi berhubungan dengan buku yang baru saja saya baca. Kalau mau digali lebih jauh sih kebiasaan menyentuh sesuatu untuk bisa tidur dimulai sejak saya kecil.

Setiap buku memiliki dimensional yang berbeda. Saya sangat suka dengan buku berukuran lebar 15cm x  panjang 23cm—salah satunya buku terjemahan Inkheart karya Cornelia Funke terbitan Gramedia—dimensinya sangat pas. Nyaman sekali digenggam, dimensi isinya pun jadi tak terlalu kecil ataupun tak terlalu besar. Membuat isi teks jadi pas juga: tak membuat saya khawatir teks yang terhampar di halaman itu akan cepat habis dan tak membuat saya kesal karena harus lebih sering mengganti halaman. Lanjutkan membaca “Buku 01”

Review Masal Dadakan: Kloter 01

ajeet-mestry-429216-unsplash
Photo by Ajeet Mestry

Huf. Huf. Huf.

Habis olahraga sambil nunggu keringat kering sebelum dibasuh air mandi, tetiba melihat list film-film yang sudah ditonton pada tahun 2017 kemarin. Niatnya dulu memang menulis setiap film yang sudah ditonton, tapi hei, hei, hei, berhubung waktu sempit maka tak semua kebagian. Sekalipun ada pula yang ditulis di buku atau catatan baik digital maupun non-digital dan belum dipublikasikan.

Maka dari itu sambil ngos-ngosan, berikutlah si saya, yang semoga bisa dimengerti sekalipun tulisan dadakan, menulis review dengan ingatan seadanya. List-nya tidak berurutan, baik dari segi mana yang paling baik atau mana yang ditonton lebih dulu. Maklum, kompulsif setelah olahraga yang harus diatur nafasnya. Dimengerti atau tidak, bodo amat, yang penting badan tak basah agar bisa dibasuh air mandi tengah malam.

Selamat datang di Review Masal Dadakan, kloter pertama:

01. COHERENCE (2013)

coherence

Ping, pong. Waw. Waw. Niat mau reuninan malah kacau gegara ada si komet lewat. Niat mau minum wine malah ditempa hukum alam yang masih belum bisa dimengerti nalar. Ponsel tetiba rusak, sinyal kacau. Orang-orang terjebak, hanya untuk sadar bahwa paralel universe yang dulu terpisah kini harus bersilaturahmi. Padahal tak ada yang mengundang, juga bukan lebaran.

02. BERLIN SYNDROME (2017)

Pelancong wanita hanya ingin liburan, tapi sial karena tergoda oleh seorang pria yang pura-pura polos. Untungnya apartemen si pria tidak polos tanpa isi, karena sang wanita nantinya akan dikurung di sana hanya untuk diperkosa, disiksa, yang merupakan bahasa “kasih sayang” yang dimengerti oleh tersangka.

03. THE WAILING (2016)

fullsizephoto701223

Di sebuah kampung banyak warga yang mati secara sadis. Dipercaya pelakunya adalah iblis, eh atau seorang iblis. Perlu pakai “orang” tidak sih?. Nah kan, fokus dong blis. Bekerja sebagai seorang polisi, tadinya seorang pria tidak percaya dengan takhayul. Sampai akhirnya anak perempuannya tersayang tertimpa sakit dan seringkali kesurupan. Kemampuannya dalam mencari pelaku kriminal membuatnya curiga pada seorang kakek tua yang baru saja datang dan tinggal di desa mereka. Review panjangnya bisa dibaca di sini.

04. GOODBYE BERLIN (2016)

Si anak introvert yang kaya dengan hidup yang serba enak sekaligus membosankan karena itu-itu aja bertemu dengan anak baru di sekolahnya. Anak baru nyeleneh yang tetiba mengajak si introvert buat jalan naik mobil yang entah dari mana. Perjalanan pun dimulai dengan membuka halaman-halaman tipis dari buku mereka yang masing-masing bernama: identitas. Lanjutkan membaca “Review Masal Dadakan: Kloter 01”

Imlek Sore di Jalan Kelenteng Bandung

 

Processed with VSCO with g1 preset
Perayaan Imlek 2018

 

Sekalipun tidak merayakannya, perayaan Tahun Baru Imlek adalah momen yang spesial bagi saya paling tidak di 3 tahun belakangan ini. Spesial karena 3 tahun belakangan, perayaan Imlek dapat saya nikmati di tempat yang berbeda dengan teman-teman yang berbeda-beda juga. Semacam menjadi temporal landmark di kepala.

Misalnya perayaan Imlek 3 tahun lalu, saya sedang solo traveling di Malang dan bertemu dengan teman sekamar yang ternyata juga sedang traveling sendirian. Kami pun pergi ke klenteng Eng An Kiong menggunakan becak, hanya untuk mendapati acara barongsai yang kami nantikan sudah usai karena kesiangan. Bahkan saya sempat memberanikan diri bertanya ke para seniman barongsai untuk nebeng di bus mereka, sayangnya ditolak. Sudah bangun dari pagi sebenarnya, bahkan sempat sarapan bubur, namun penyebab kesiangan kami adalah karena mengikuti informasi tempat yang salah. Ditambah niat kami untuk membangunkan seorang jurnalis media traveling asal Spanyol yang ternyata sudah berangkat lebih dulu. Atau di tahun lalu, saya mengajak teman-teman saya di Jakarta untuk mengikuti acara perayaan Tahun Baru Imlek di Vihara Dharma Bhakti.

Untuk tahun ini, di Bandung saja. Kota yang sudah menjadi kota tempat tinggal saya selama 7 tahun belakangan. Niatnya, lagi-lagi mendadak. Saya yang awalnya lupa bahwa hari Jum’at 16 Februari kemarin adalah hari perayaan Imlek, melihat aksara China di koin kalung yang bergantung di leher saya sendiri. Tanpa pikir panjang, saya pun menghubungi teman saya untuk ke daerah Cibadak sesegera mungkin karena setahu saya sebagai warga yang rumahnya di daerah sana (kini saya tinggal di kontrakan yang berada di daerah yang berbeda) perayaan Imlek dapat terasa di sana. Namun karena daerah Cibadak tak seramai yang kami kira, kami pun akhirnya ke Jalan Kelenteng, pikir kami di sana ada sentra kuliner Chinatown Bandung dan kemungkinan besar akan ramai.

Lanjutkan membaca “Imlek Sore di Jalan Kelenteng Bandung”

THIEF EYES

output_AH2MPX

My first Inktober, the eyes of the thief swiftly looking for his next victim….

Available for shop on my Redbubble store and Teepublic

Or connect with me on Instagram here

Selepas Mandi

Selepas mandi sembari menunggu jam pasti kapan musti pergi, rambut selesai dipangkas tak tahu bergaya apa. Berusaha membuang sisa-sisa diri yang penuh aib. Tentangmu pun masih ada entah dengan kesadaranku yang baru, kesadaranku yang lama, atau sebenarnya tak sadar-sadar. Bahwa dirimu pada hakikatnya hidup dalam dunia yang sudah berwarna dengan orang-orang yang selalu hadir disisimu tanpa perlu kau meminta karena usahamu yang lama sudah menuai buah. Lanjutkan membaca “Selepas Mandi”

For You Are So Coward yet So Unaware of It

ello-optimized-aa0fa6ca

Macam keranjingan bikin Gif tapi juga ga bisa mengacuhkan kecintaan pada kata-kata. Tambahkan pula sedang doyan baca-baca quotes non sok-sok’an positif. Maka jadilah begini rupanya.

Toni Erdmann: Sindiran Kehidupan Moderen

vlcsnap-2017-06-02-18h13m46s071

Ting-tong. Bel pintu berbunyi ditekan oleh pengantar paket. Seorang bapak tua gendut bernama Winfried (Peter Simonichek) membuka pintu, bilang bahwa kiriman tersebut ditujukan pada adiknya, Toni si gila yang baru saja keluar dari penjara dan kemarin menyantap makanan anjing. Isinya mungkin majalah porno langganan, tambahnya. Ia pun masuk dan digantikan oleh Toni, lengkap dengan borgol masih mengitari satu lengannya.

Itulah salah satu contoh tingkah konyol Winifried sang duda yang bekerja sebagai guru di sekolah. Karena Winifried dan Toni adalah satu orang yang sama, membuat pengantar paket kebingungan namun akhirnya tertawa kikuk.

Kekonyolan Winifried ini sayangnya tak bisa dicerna oleh Ines (Sandra Hüller), anak perempuannya yang workaholic. Selalu menempel pada ponselnya, geliat tubuh dan raut wajah yang selalu gelisah, ia terpaku pada target pekerjaannya sebagai konsultan di salah satu perusahaan ternama. Lanjutkan membaca “Toni Erdmann: Sindiran Kehidupan Moderen”

Tujuh 24

Ah, halo dua ribu tujuh belas. Maaf diri yang sudah absen menulis yang entah apa namanya ini, dan seolah telah menjadi tradisi pribadi demi menyambut pergantian tahun. Di mana tahun lalu tak saya buat macam apa ini, dan buruklah dibuatnya. Semacam karma agar sering-sering berkontemplasi mungkin.

Atau mungkin karena saya tak suka enam. Mengingatkan akan nilai yang diberikan guru atas nama kasihan, sekalipun tujuh sendiri memang pas-pasan. Pernah saya baca katanya tujuh melambangkan yang tertinggi, sesuai tradisi timur yang sering bilang lapisan langit ketujuh. Bahkan bulan kesukaan saya sendiri, September, sejatinya adalah bulan ke tujuh dalam perhitungan dulu.

Tujuh adalah angka favorit saya setelah tiga. Ingin saya bilang bahwa besar harapan saya padamu, tapi kehidupan telah membentak saya agar tak lagi mencengkram kuat-kuat. Tak ada lagi semester atau jam pegawai pada tahun ini yang artinya harus saya buat langkah-langkah sendiri. Lanjutkan membaca “Tujuh 24”

La fille inconnue: Dorongan dari Perasaan Bersalah

vlcsnap-2017-05-16-22h27m27s914

Sebenarnya ingin sekali menggunakan judul lain untuk review film berbahasa Prancis asal Belgia ini. Tapi saya stuck di satu kata atau mungkin frasa untuk “perasaan untuk turut bertanggung jawab yang didorong dari rasa penyesalan atas berbuat atau tidak berbuat sesuatu tanpa mengetahui akibat dari perbuatan itu.” Nah, ribet kan? Agar lebih sederhana maka sebut saja sebagai perasaan bersalah.

Jenny (Adèle Haenel) adalah dokter di sebuah klinik, selepas habis jam praktek dan bergegas untuk pulang seseorang menekan bel kliniknya. Julien si dokter muda yang sedang magang (atau di Indonesia sering disebut “koas”) ingin membuka pintu, namun Jenny melarangnya. Bel hanya berbunyi sekali menandakan bahwa tamu tersebut tidak dalam keadaan yang genting, begitu kata Jenny pada Julien yang pada hari itu membuatnya gerah karena tingkah dokter magang yang seolah tak minat menjadi dokter.

Lanjutkan membaca “La fille inconnue: Dorongan dari Perasaan Bersalah”