THIEF EYES

output_AH2MPX

My first Inktober, the eyes of the thief swiftly looking for his next victim….

Available for shop on my Redbubble store and Teepublic

Or connect with me on Instagram here

Selepas Mandi

Selepas mandi sembari menunggu jam pasti kapan musti pergi, rambut selesai dipangkas tak tahu bergaya apa. Berusaha membuang sisa-sisa diri yang penuh aib. Tentangmu pun masih ada entah dengan kesadaranku yang baru, kesadaranku yang lama, atau sebenarnya tak sadar-sadar. Bahwa dirimu pada hakikatnya hidup dalam dunia yang sudah berwarna dengan orang-orang yang selalu hadir disisimu tanpa perlu kau meminta karena usahamu yang lama sudah menuai buah. Continue reading “Selepas Mandi”

For You Are So Coward yet So Unaware of It

ello-optimized-aa0fa6ca

Macam keranjingan bikin Gif tapi juga ga bisa mengacuhkan kecintaan pada kata-kata. Tambahkan pula sedang doyan baca-baca quotes non sok-sok’an positif. Maka jadilah begini rupanya.

Toni Erdmann: Sindiran Kehidupan Moderen

vlcsnap-2017-06-02-18h13m46s071

Ting-tong. Bel pintu berbunyi ditekan oleh pengantar paket. Seorang bapak tua gendut bernama Winfried (Peter Simonichek) membuka pintu, bilang bahwa kiriman tersebut ditujukan pada adiknya, Toni si gila yang baru saja keluar dari penjara dan kemarin menyantap makanan anjing. Isinya mungkin majalah porno langganan, tambahnya. Ia pun masuk dan digantikan oleh Toni, lengkap dengan borgol masih mengitari satu lengannya.

Itulah salah satu contoh tingkah konyol Winifried sang duda yang bekerja sebagai guru di sekolah. Karena Winifried dan Toni adalah satu orang yang sama, membuat pengantar paket kebingungan namun akhirnya tertawa kikuk.

Kekonyolan Winifried ini sayangnya tak bisa dicerna oleh Ines (Sandra Hüller), anak perempuannya yang workaholic. Selalu menempel pada ponselnya, geliat tubuh dan raut wajah yang selalu gelisah, ia terpaku pada target pekerjaannya sebagai konsultan di salah satu perusahaan ternama. Continue reading “Toni Erdmann: Sindiran Kehidupan Moderen”

Tujuh 24

Ah, halo dua ribu tujuh belas. Maaf diri yang sudah absen menulis yang entah apa namanya ini, dan seolah telah menjadi tradisi pribadi demi menyambut pergantian tahun. Di mana tahun lalu tak saya buat macam apa ini, dan buruklah dibuatnya. Semacam karma agar sering-sering berkontemplasi mungkin.

Atau mungkin karena saya tak suka enam. Mengingatkan akan nilai yang diberikan guru atas nama kasihan, sekalipun tujuh sendiri memang pas-pasan. Pernah saya baca katanya tujuh melambangkan yang tertinggi, sesuai tradisi timur yang sering bilang lapisan langit ketujuh. Bahkan bulan kesukaan saya sendiri, September, sejatinya adalah bulan ke tujuh dalam perhitungan dulu.

Tujuh adalah angka favorit saya setelah tiga. Ingin saya bilang bahwa besar harapan saya padamu, tapi kehidupan telah membentak saya agar tak lagi mencengkram kuat-kuat. Tak ada lagi semester atau jam pegawai pada tahun ini yang artinya harus saya buat langkah-langkah sendiri. Continue reading “Tujuh 24”

La fille inconnue: Dorongan dari Perasaan Bersalah

vlcsnap-2017-05-16-22h27m27s914

Sebenarnya ingin sekali menggunakan judul lain untuk review film berbahasa Prancis asal Belgia ini. Tapi saya stuck di satu kata atau mungkin frasa untuk “perasaan untuk turut bertanggung jawab yang didorong dari rasa penyesalan atas berbuat atau tidak berbuat sesuatu tanpa mengetahui akibat dari perbuatan itu.” Nah, ribet kan? Agar lebih sederhana maka sebut saja sebagai perasaan bersalah.

Jenny (Adèle Haenel) adalah dokter di sebuah klinik, selepas habis jam praktek dan bergegas untuk pulang seseorang menekan bel kliniknya. Julien si dokter muda yang sedang magang (atau di Indonesia sering disebut “koas”) ingin membuka pintu, namun Jenny melarangnya. Bel hanya berbunyi sekali menandakan bahwa tamu tersebut tidak dalam keadaan yang genting, begitu kata Jenny pada Julien yang pada hari itu membuatnya gerah karena tingkah dokter magang yang seolah tak minat menjadi dokter.

Continue reading “La fille inconnue: Dorongan dari Perasaan Bersalah”